Syekh Ali al-Jirjawi: Ulama Al-Azhar yang Menyeberangi Lautan Menuju Jepang

su-san-lee-E_eWwM29wfU-unsplash

Pada awal abad ke-20, Jepang menjadi perhatian dunia Islam. Kemenangan Jepang atas Rusia dalam Perang Rusia-Jepang pada 1905 membuat negeri yang berada di ujung Timur Asia itu dipandang dengan penuh kekaguman. Di tengah perhatian tersebut, beredar kabar di berbagai negeri Muslim bahwa Jepang akan mengadakan sebuah konferensi agama untuk memperbandingkan berbagai agama dan menentukan agama yang paling sesuai bagi negeri itu.

Kabar tersebut sampai ke Mesir dan menarik perhatian seorang jurnalis sekaligus ulama Al-Azhar, Syekh Ali Ahmad al-Jirjawi. Ia tidak sekadar menulis tentangnya. Ia memutuskan untuk berangkat sendiri ke Jepang. 

Dari Kuttab hingga Al-Azhar

Ali al-Jirjawi lahir di Desa Umm al-Qur’an, wilayah Girga, Provinsi Sohag, Mesir Selatan, pada sepertiga akhir abad ke-19. Ia memulai pendidikan di kuttab dengan belajar membaca, menulis, dan menghafal al-Qur’an. Setelah itu, ia mempelajari ilmu-ilmu agama kepada para ulama di Girga sebelum melanjutkan pendidikan ke Al-Azhar di Kairo. Ia kemudian menempuh pendidikan di Madrasah Qadha Syar’i dan dikenal sebagai seorang jurnalis, pengacara, sekaligus tokoh yang aktif dalam kehidupan intelektual Al-Azhar. 

Jurnalistik menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya. Pada 1899, ia mendirikan surat kabar al-Irsyad. Melalui surat kabar tersebut, ia mengikuti perkembangan dunia dan menyuarakan gagasan-gagasannya mengenai pendidikan, kebebasan pers, serta pembaruan kehidupan keislaman. Aktivitas jurnalistik inilah yang mempertemukannya dengan kabar tentang konferensi agama di Jepang. 

Menjual Tanah demi Sebuah Perjalanan

Ketika kabar mengenai konferensi agama di Jepang sampai ke Mesir pada 1906, al-Jirjawi menyerukan agar Mesir mengirimkan delegasi ulama. Menurutnya, keberadaan Al-Azhar membuat Mesir memiliki posisi penting untuk mewakili Islam dalam forum tersebut.

Namun, seruannya tidak mendapat respons sebagaimana yang diharapkan. Ia pun mengambil keputusan yang tidak biasa: berangkat sendiri.

Ia menutup al-Irsyad, pulang ke kampung halamannya, kemudian menjual lima feddan tanah miliknya untuk membiayai perjalanan. Dari Pelabuhan Alexandria, ia berlayar menuju Jepang, menempuh perjalanan panjang melalui sejumlah pelabuhan di kawasan Mediterania, Laut Merah, India, hingga Asia Timur. 

Perjalanan itu kemudian ia abadikan dalam buku ar-Rihlah al-Yabaniyyah yang pertama kali diterbitkan di Mesir pada 1907. Buku tersebut bukan hanya menceritakan perjalanan menuju Jepang, tetapi juga memuat pengamatannya terhadap berbagai negeri yang ia singgahi, termasuk pendidikan, kehidupan masyarakat, pers, serta kondisi umat Islam. 

32 Hari di Negeri Matahari Terbit

Menurut catatan al-Jirjawi, ia tiba di Yokohama dan kemudian melanjutkan perjalanan ke Tokyo. Di sana ia bertemu sejumlah muslim dari berbagai wilayah, termasuk seorang muslim asal India, Rusia, dan Tiongkok. Mereka kemudian membentuk sebuah organisasi dakwah dan menyewa sebuah tempat yang digunakan sebagai pusat kegiatan. Al-Jirjawi juga mengaku telah berdakwah kepada masyarakat Jepang dan menyebut angka yang sangat besar: sekitar 12 ribu orang Jepang masuk Islam. 

Namun, angka tersebut perlu dibaca secara kritis.

Klaim 12 ribu orang Jepang masuk Islam dalam waktu singkat memang tercatat dalam ar-Rihlah al-Yabaniyyah, tetapi tidak didukung oleh bukti independen yang sebanding. Bahkan penelitian mengenai sejarah Islam di Jepang menunjukkan adanya keraguan serius terhadap angka tersebut. Karena itu, klaim tersebut lebih tepat diposisikan sebagai kesaksian al-Jirjawi sendiri, bukan sebagai angka historis yang telah terverifikasi. 

Hal yang sama berlaku pada kisah konferensi agama yang menjadi alasan utama perjalanannya.

Antara Fakta Sejarah dan Kisah Perjalanan

Satu hal yang menarik dari kisah al-Jirjawi adalah adanya perbedaan antara narasi dalam bukunya dan sumber-sumber sejarah lain. Surat kabar Jepang Japan Times dan Chugai Koho memang memberitakan adanya pertemuan lintas agama di Tokyo pada Mei 1906. Pertemuan tersebut dihadiri perwakilan berbagai agama dan membicarakan kerja sama serta hubungan baik antaragama. 

Akan tetapi, belum ada bukti kuat bahwa pertemuan tersebut merupakan konferensi resmi untuk memilih agama yang akan dijadikan agama resmi Kekaisaran Jepang. Bahkan, penelitian akademik mutakhir menilai bahwa narasi tentang konferensi yang bertujuan memilih agama tersebut kemungkinan merupakan bagian dari konstruksi naratif yang berkembang pada masa itu. 

Dengan demikian, kisah al-Jirjawi perlu dibaca dengan dua sikap sekaligus: tidak serta-merta menolaknya sebagai dongeng, tetapi juga tidak menerima seluruh detailnya sebagai fakta sejarah tanpa pemeriksaan.

Ada sejumlah petunjuk yang mendukung bahwa ia memang pernah sampai ke Jepang. Peneliti sejarah Islam di Jepang, Abdul Rahman Suzuki, pernah menelusuri jejak perjalanan al-Jirjawi dan melaporkan bahwa nama serta capnya ditemukan dalam catatan lama Grand Hotel di Yokohama. Namun, penelusuran berikutnya tidak berhasil memperoleh kembali catatan tersebut untuk diverifikasi secara independen. Karena itu, bukti tersebut tetap menarik, tetapi belum cukup untuk menutup seluruh perdebatan. 

Warisan Seorang Azhari

Terlepas dari perdebatan mengenai detail perjalanannya, al-Jirjawi tetap merupakan sosok yang menarik dalam sejarah hubungan dunia Islam dan Jepang. Ia bukan sekadar seorang pelancong. Ia adalah seorang Azhari, jurnalis, penulis, dan tokoh yang melihat perjalanan sebagai bagian dari usaha memahami dunia sekaligus membawa pesan Islam.

Sepulang dari Jepang, ia kembali ke dunia jurnalistik dan menerbitkan al-Azhar al-Ma’mur pada 1907. Ia juga menulis sejumlah karya lain, termasuk al-Islam wa Mister Scott, sebagai bagian dari responsnya terhadap sejumlah tulisan orientalis mengenai Islam. Ia terus aktif dalam dunia pers dan kegiatan intelektual hingga wafat pada 1961. 

Lebih dari satu abad kemudian, kisah al-Jirjawi masih menyisakan pertanyaan. Apakah benar ribuan orang Jepang memeluk Islam melalui dakwahnya? Sejauh mana konferensi agama yang ia ceritakan benar-benar terjadi? Dan apakah seluruh detail dalam ar-Rihlah al-Yabaniyyah merupakan laporan perjalanan atau sebagian telah dibentuk oleh imajinasi dan semangat dakwah penulisnya?

Pertanyaan-pertanyaan itu justru membuat kisahnya semakin menarik untuk dikaji.

Sebab, di balik segala perdebatan tentang detail sejarahnya, terdapat satu fakta yang sulit diabaikan: pada awal abad ke-20, ketika perjalanan dari Mesir menuju Jepang bukanlah perkara mudah, seorang Azhari memilih menjual sebagian tanah miliknya dan menyeberangi lautan demi sebuah misi yang ia yakini penting.

Itulah Syekh Ali al-Jirjawi, seorang ulama dan jurnalis yang menjadikan perjalanan bukan hanya sebagai perpindahan geografis, tetapi juga sebagai perjalanan intelektual untuk melihat dunia Islam dari negeri yang sedang bangkit di ujung Timur Asia.

Sumber:

Oleh: Nginayaturrohmah, mahasiswi doktoral Universitas Al-Azhar, Kairo, konsentrasi Fikih Muqaran (Perbandingan Fikih), anggota PCI Muslimat NU Mesir