Bangkit dari Puing: Empat Filosofi Jepang dalam Cermin Ajaran Islam

Bangkit dari Puing: Empat Filosofi Jepang dalam Cermin Ajaran Islam

Pagi 6 Agustus 1945, sebuah bom atom meluluhlantakkan Hiroshima. Tiga hari kemudian, Nagasaki mengalami nasib serupa. Ratusan ribu jiwa melayang, kota-kota rata dengan tanah, dan Jepang menyerah tanpa syarat. Saat itu, hampir tak ada yang membayangkan bangsa ini akan bangkit.

Namun dalam waktu kurang dari seperempat abad, Jepang menjelma menjadi kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia. Kereta cepat Shinkansen mulai melaju pada 1964, tahun yang sama ketika Tokyo menjadi tuan rumah Olimpiade. Hari ini, siapa pun yang tinggal di Jepang dapat menyaksikan buah kebangkitan itu: kota yang tertib, layanan publik yang presisi, dan masyarakat yang tetap tenang ketika gempa atau topan datang.

Apa rahasianya? Teknologi dan modal tentu berperan. Tetapi di balik itu ada cara pandang hidup yang mengakar dalam budaya Jepang. Empat di antaranya, yaitu kaizen, shikata ga nai, wabi-sabi, dan ikigai, menarik untuk dibaca dalam cermin ajaran Islam. Tujuannya bukan mengislamkan budaya Jepang, melainkan menemukan kembali nilai-nilai yang sesungguhnya telah lama kita miliki.

Kaizen dan Istiqamah

Kaizen berarti perbaikan berkelanjutan: langkah kecil yang dilakukan terus-menerus, bukan lompatan besar sesekali. Filosofi ini menjadi tulang punggung industri Jepang pascaperang, dari lantai pabrik hingga ruang rapat. Dalam Islam, semangat ini dikenal sebagai istiqamah. Rasulullah saw. bersabda bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling konsisten, meskipun sedikit (HR. Bukhari dan Muslim). Kaizen juga sejalan dengan muhasabah: mengevaluasi diri setiap hari agar hari ini lebih baik dari kemarin.

Shikata ga Nai dan Tawakal

Ungkapan shikata ga nai berarti “tidak ada yang bisa dilakukan”. Sekilas terdengar pasrah. Dalam praktiknya, ia adalah sikap menerima kenyataan yang tak bisa diubah, lalu segera membenahi apa yang masih bisa dibenahi. Sikap inilah yang membuat warga Jepang cepat bangkit setelah gempa dan tsunami 2011. Islam mengenalnya sebagai tawakal dan ridha terhadap takdir. Bedanya, tawakal dalam Islam selalu didahului ikhtiar, sebagaimana pesan Nabi saw. kepada seorang sahabat, “Ikatlah untamu, lalu bertawakallah” (HR. Tirmidzi).

Wabi-Sabi dan Qana’ah

Wabi-sabi adalah cara memandang keindahan dalam ketidaksempurnaan, kesederhanaan, dan kefanaan. Mangkuk teh yang retak tidak dibuang, justru dihargai karena jejak waktunya. Nilai ini dekat dengan qana’ah, yaitu merasa cukup atas pemberian Allah. Nabi saw. bersabda, “Beruntunglah orang yang berislam, diberi rezeki secukupnya, dan dijadikan Allah merasa cukup atas pemberian-Nya” (HR. Muslim). Wabi-sabi juga mengingatkan pada zuhud: dunia ini sementara, maka jangan sampai ia menguasai hati.

Ikigai dan Niat Ibadah

Ikigai adalah alasan seseorang bangun di pagi hari, titik temu antara apa yang dicintai, dikuasai, dibutuhkan dunia, dan memberi penghidupan. Islam memberi jawaban yang lebih mendasar tentang tujuan hidup: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku” (QS. Adz-Dzariyat: 56). Dengan niat yang benar, bekerja, belajar, dan melayani sesama bernilai ibadah. Maka ikigai seorang Muslim adalah khidmah: hidup yang bermakna karena memberi manfaat.

Bekal bagi Nahdliyin di Negeri Sakura

Bagi Nahdliyin di Jepang, baik pemagang, mahasiswa, pekerja, maupun keluarga yang menetap, empat filosofi ini bukan sesuatu yang asing. Kita dapat menyerapnya tanpa kehilangan jati diri. NU memiliki kaidah yang tepat untuk itu: al-muhafazhah ‘ala al-qadim ash-shalih wal akhdzu bil jadid al-ashlah, memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik. Disiplin kerja Jepang dapat menjadi ladang istiqamah. Ketenangan menghadapi bencana menjadi latihan tawakal. Hidup sederhana di apato yang sempit menjadi sekolah qana’ah.

Jepang membuktikan bahwa bangsa yang pernah hancur bisa bangkit jika memegang nilai yang kokoh. Umat Islam sesungguhnya memiliki modal nilai yang sama, bahkan bersandar pada wahyu. Yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk mengamalkannya, sedikit demi sedikit, setiap hari. Bukankah itu inti kaizen sekaligus istiqamah?

Oleh: Afidatul Asmar, dosen dan peneliti di Bidang Antropologi Dakwah IAIN Parepare serta alumnus Lemhannas RI.