Ngaji Adab di Negeri yang Tak Pernah Mondok

07 Ngaji Adab

Ada satu ironi yang pelan-pelan saya sadari sejak menginjakkan kaki di Negeri Sakura: di negeri yang tak mengenal pesantren, tak ada kiai, tak ada bandongan dan sorogan, saya justru merasa sedang mengulang pelajaran adab dari awal.

Bukan dari mimbar. Bukan dari halaqah. Melainkan dari hal-hal kecil yang terjadi setiap hari, begitu biasa bagi orang Jepang, tetapi begitu menampar bagi seorang santri.

Teringat kitab Ta’limul Muta’allim yang dulu kami baca dengan tekun. Kitab tipis itu mengajarkan bahwa ilmu tak akan berkah tanpa adab, bahwa seorang penuntut ilmu harus memuliakan guru, menjaga kebersihan, dan merendahkan hati. Dulu kami membacanya dengan suara lantang, memberi makna gandul kata demi kata, lalu menutupnya dan beranjak ke pelajaran berikutnya. Di Jepang, saya seperti melihat isi kitab itu berjalan di jalanan, di dalam kereta, dan di ruang-ruang kelas, dihidupi oleh orang-orang yang mungkin tak pernah mendengar namanya.

Hari ini, 22 Oktober 2026, kita memperingati Hari Santri. Dari Negeri Sakura, izinkan saya berbagi renungan: jangan-jangan selama ini kita lebih pandai mengaji adab daripada mengamalkan adab.

Kitab yang Berjalan di Jalanan

Siapa pun yang pernah tinggal di Jepang akan merasakannya. Barang yang tertinggal di kereta atau tempat perbelanjaan hampir selalu kembali ke pemiliknya. Orang antre dengan tertib tanpa perlu dijaga petugas. Kereta datang tepat waktu, karena waktu orang lain dianggap amanah yang tak boleh disia-siakan.

Sebelum makan, mereka mengucap itadakimasu, ungkapan syukur dan penghormatan atas makanan serta siapa pun yang berjerih payah menghadirkannya. Kepada guru dan orang yang lebih tua, mereka membungkuk dengan tulus. Di tempat umum, mereka berbicara pelan agar tidak mengganggu orang lain.

Coba kita bandingkan dengan apa yang diajarkan di pesantren: kebersihan adalah bagian dari iman, bersyukur sebelum dan sesudah makan, memuliakan guru hingga tak berani berjalan mendahuluinya, menjaga lisan, tidak mengambil hak orang lain sekecil apa pun, hingga menepati janji.

Semuanya sama. Bedanya, di pesantren nilai-nilai itu tertulis rapi dalam kitab dengan sanad. Di Jepang, nilai serupa tidak bersumber dari kitab yang sama, tetapi ia hidup menjadi kebiasaan, menjadi budaya, menjadi sistem yang dijaga turun-temurun.

Di sinilah letak tamparannya. Kita kaya akan teks yang tertulis, tetapi kadang miskin dalam praktiknya. Mereka mungkin tak punya teksnya, tetapi kaya dalam praktiknya. Tak heran jika ungkapan yang kerap dinisbatkan kepada Syekh Muhammad Abduh terasa begitu relevan: ia menemukan nilai-nilai Islam hidup di negeri yang sedikit muslimnya, sementara di negeri muslim nilai itu justru sering absen dari perilaku.

Inti Risalah dari Akhlak

Rasulullah telah merangkum inti dari seluruh misi kenabian beliau dalam satu kalimat yang padat:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

“Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”
(HR. Ahmad dan Al-Baihaqi)

Hadis ini menyimpan makna yang sangat dalam. Seolah Rasulullah ingin menegaskan bahwa, dari sekian banyak tugas kenabian, muara dari semuanya adalah akhlak. Salat yang benar mencegah perbuatan keji dan mungkar. Puasa yang benar melahirkan pengendalian diri. Zakat yang benar menumbuhkan kepedulian. Haji yang benar mengikis kesombongan.

Perhatikan pula kata li-utammima (“untuk menyempurnakan”). Rasulullah tidak mengatakan “untuk menciptakan” akhlak. Para ulama menjelaskan, hal ini menunjukkan bahwa benih-benih kebaikan sudah ada dalam fitrah manusia sebelum Islam datang: kejujuran, kedermawanan, memuliakan tamu, menepati janji. Islam hadir untuk meluruskan yang bengkok, melengkapi yang kurang, dan memberinya ruh tauhid agar setiap kebaikan bernilai ibadah.

Hadis inilah kacamata yang tepat untuk memandang Jepang. Kebaikan yang kita saksikan di sini adalah benih fitrah yang Allah titipkan pada setiap manusia. Kita tidak perlu minder, tetapi juga tidak boleh menutup mata. Justru santri seharusnya menjadi pihak yang paling layak menyempurnakannya: tertib seperti mereka, ditambah niat ibadah; menjaga kebersihan seperti mereka, ditambah kesadaran bahwa kebersihan adalah bagian dari iman.

Dari Ruang Ngaji ke Ruang Publik

Tahun ini, Kementerian Agama mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, sementara PBNU mengajak kita “Menguatkan Akar Tradisi, Menjaga Keutuhan Negeri”. Keduanya bertemu pada satu titik: santri tidak cukup menjadi penjaga teks, tetapi harus menjadi penggerak perilaku.

Indonesia Emas 2045 tidak akan lahir hanya dari gedung pencakar langit, jalan tol, dan kecerdasan buatan. Ia lahir dari bangsa yang jujur ketika tak diawasi, yang menepati janji, yang menghargai waktu orang lain, yang tidak membuang sampah sembarangan, dan yang santun di dunia nyata maupun di media sosial. Jepang bangkit dari kehancuran perang bukan semata karena teknologi, tetapi karena karakter rakyatnya.

Pesantren sebenarnya punya modal yang jauh lebih kaya untuk itu: tradisi adab keilmuan yang bersanad, keteladanan kiai, dan kehidupan berasrama yang menempa kesabaran serta kemandirian. Yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk memastikan adab itu tidak berhenti di ruang ngaji, tetapi keluar dan menyebar ke jalan raya, ke kantor, ke pasar, ke ruang publik, hingga ke kolom komentar.

Santri tidak boleh puas hanya dengan khatam kitab. Santri harus menjadi “kitab yang berjalan”, sehingga orang yang tak pernah membaca Ta’limul Muta’allim pun bisa memahami isinya hanya dengan melihat akhlak kita.

Pulang Membawa Cermin

Bagi kami, santri yang sedang merantau di negeri orang, Jepang adalah madrasah kedua. Di sini kami belajar bahwa adab bukan sekadar bab dalam kitab, melainkan cara hidup. Di sini pula kami belajar bahwa menjadi duta Islam dan Indonesia tidak selalu lewat ceramah, tetapi lewat hal sederhana: datang tepat waktu, bekerja dengan sungguh-sungguh, hingga menjaga kebersihan.

Suatu hari nanti, kami ingin pulang bukan hanya membawa ilmu dan pengalaman kerja, tetapi juga sebuah cermin, agar kita bisa melihat betapa kayanya warisan adab yang kita miliki, sekaligus betapa jauhnya kita kadang dari mengamalkannya.

Selamat Hari Santri. Mari kita ngaji adab, bukan hanya dengan lisan, tetapi dengan seluruh kehidupan kita.

Oleh: Khoirul Adib, Master Student di Hiroshima University, Jepang