Menjunjung Langit di Negeri Jepang

risalahnu-69a8dae48a6c2

Pasca dinyatakan lolos seleksi pada program Worldwide Dakwah NU 2026, hari itu menjadi titik balik paling emosional dałam perjalanan hidup saya. Beroleh nama Mohammad Khoiron dari orang tua, saya merupakan salah seorang dai yang menjalankan misi dakwah di Jepang, negara di Asia Timur yang sering kali disebut sebagai mercusuar teknologi dunia, disiplin sosial, serta perkembangan sepak bola yang melesat signifikan dalam dua dekade terakhir.

Kesedihan sekaligus kebanggaan terasa kian nyata karena keberangkatan saya dilakukan pada bulan suci yang penuh berkah. Meninggalkan keluarga dalam suasana batin yang biasanya diisi dengan kebersamaan tentu bukan perkara ringan. Namun di sisi lain, saya juga merasakan syukur dan kebahagiaan karena dapat terlibat dalam misi dakwah NU tersebut.

Saya, yang juga kru Majalah Risalah NU, memulai perjalanan menuju Jepang pada hari Minggu, 22 Februari 2026. Kala itu, saya berangkat bersama salah seorang dai senior sekaligus Ketua Lembaga Dakwah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, Dr. KH. Saiful Amar, M.Si. Dini hari, sekitar pukul 00.30 WIB, kami meninggalkan rumah menuju Bandara Soekarno-Hatta. Sekitar pukul 01.30 WIB, kami tiba di bandara. Meski berangkat bersama, jadwal penerbangan menuju Kuala Lumpur untuk transit berbeda. Kyai Saiful Amar dijadwalkan lepas landas pada pukul 05.10 WIB, sedangkan saya baru akan menyusul pada pukul 08.30 pagi.

Penerbangan menuju Kuala Lumpur berlangsung relatif singkat, namun pikiran saya terus berkelana jauh, melampaui awan yang kami lintasi. Tanpa berlama-lama, kami bersama-sama menuju pesawat AirAsia yang akan membawa kami terbang ke Bandara Internasional Haneda di Tokyo, Jepang. Akhirnya, sekitar pukul 22.45 waktu Jepang, pesawat yang kami tumpangi mendarat mulus di Haneda.

Begitu turun, rasa kagum bercampur bingung muncul lantaran kesempatan itu merupakan kali pertama saya memijakkan kaki di Negeri Sakura. Lampu-lampu di jalanan Tokyo yang tertata rapi, ratusan gedung pencakar langit, dan suasana berbeda menghadirkan kesan yang begitu mengagumkan.

Peran PCINU Jepang

Menurut Ketua Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Jepang KH. Achmad Gazali, Ph.D., di tengah dinamika kehidupan masyarakat Indonesia di Jepang yang kian meningkat dari tahun ke tahun, PCINU Jepang memantapkan perannya sebagai penjaga tradisi, akidah, dan identitas keislaman Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyyah di Negeri Sakura. “PCINU Jepang mengusung visi besar, menjadi komunitas yang solid dan mandiri dalam menebarkan paham Aswaja di Jepang,” ujarnya.

Selain itu, PCINU Jepang aktif memakmurkan serta mengoordinasikan masjid dan musala yang berpaham Aswaja di berbagai wilayah Jepang. Menurut KH. Achmad Gazali, Ph.D., langkah tersebut ditempuh untuk memastikan umat Islam Indonesia memiliki ruang ibadah dan pusat kegiatan keagamaan yang terarah. Lebih jauh, PCINU Jepang juga mempromosikan seni dan budaya Islam Indonesia kepada masyarakat Jepang sebagai bagian dari diplomasi kultural, sehingga wajah Islam yang ramah, moderat, dan sarat nilai tradisi dapat dikenal lebih luas.

Dalam bidang dakwah, PCINU Jepang memberi perhatian khusus pada pengembangan pendidikan berbasis pesantren serta pelayanan mualaf center. Seluruh aktivitas itu diarahkan untuk menjaga keimanan warga negara Indonesia yang bermukim di Jepang. Untuk itu, PCINU Jepang rutin menggelar pengajian akhir pekan, umumnya pada malam Sabtu.

Dalam bidang pendidikan, PCINU Jepang turut mendukung pendirian Taman Pendidikan Al-Qur’an, pesantren, serta berbagai masjid. Meski tidak seluruhnya berada di bawah struktur organisasi, hubungan kultural dan komunikasi intensif tetap terjalin. Kegiatan pembelajaran Al-Qur’an, bimbingan salat, hingga pendalaman ilmu agama menjadi agenda rutin yang memperkuat fondasi keislaman umat muslim Indonesia yang berada di Jepang.

Kontribusi konkret PCINU Jepang juga terlihat melalui pembentukan Majelis Wakil Cabang Istimewa (MWCI) NU di berbagai daerah. Melalui MWCI inilah pelayanan keagamaan dan pendampingan mualaf dilakukan secara lebih dekat. Pintu khidmah dibuka selebar-lebarnya, memastikan setiap warga Muslim Indonesia di Jepang memiliki akses terhadap bimbingan agama dan sosial.

Dengan visi kemandirian dan soliditas organisasi, saya melihat PCINU Jepang terus menapaki jalan dakwah yang adaptif dan kontekstual. Di tengah realitas sebagai minoritas, PCINU Jepang tidak hanya menjaga iman warganya, tetapi juga membangun jembatan pemahaman dengan masyarakat Jepang. Sebuah kerja sunyi yang perlahan namun pasti, menegaskan bahwa Islam yang ramah dan berbudaya dapat tumbuh subur di mana pun ia berakar.

Penulis: Mohammad Khoiron
Editor: Dina Faoziah

Tulisan ini pernah dimuat di Laporan Khusus Majalah Risalah NU edisi 175 bulan Maret 2026.