Menyelaraskan Nilai Kesatria Bushido dengan Prinsip Islam Nusantara di Jepang

01 Menyelaraskan Nilai

Jepang merupakan negara yang saat ini berkembang sangat pesat, baik dari segi ekonomi maupun budaya, dan seolah menjadi cermin bagi banyak negara di Asia. Di balik gemerlap modernisasinya, salah satu karakteristik paling menonjol dari bangsa Jepang adalah semangat pantang menyerah serta upaya menjaga kehormatan dan harga diri, sebuah karakter yang telah diwariskan sejak era para samurai ratusan tahun silam. Nilai-nilai ini terangkum dalam filosofi bushido, di mana kehormatan, harga diri, dan kesetiaan diajarkan sebagai asas yang lebih berharga daripada nyawa itu sendiri.

Bagi diaspora Muslim Indonesia di Jepang, khususnya nahdliyin yang bernaung di bawah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Jepang, semangat para kesatria masa lalu ini rupanya menyimpan irisan filosofis yang mendalam dengan semangat seorang santri. Menjadi minoritas di negeri orang menuntut adanya ketangguhan identitas, kesetiaan pada nilai ajaran agama, sekaligus menuntut keluwesan dalam beradaptasi.

Kesetiaan dan Sisi Kemanusiaan: Refleksi dari Hattori Hanzo

Sejarah Jepang mencatat peran krusial kelompok samurai dan shinobi (ninja) pada periode Sengoku (negara-negara berperang) yang penuh gejolak. Salah satu tokoh yang paling legendaris adalah Hattori Hanzo, seorang samurai sekaligus ahli taktik brilian yang mengabdi dengan sangat setia kepada Tokugawa Ieyasu. Kehebatannya di medan perang hingga taktik spionasenya membuat Hanzo dijuluki “Oni Hanzo” alias Iblis Hanzo.

Namun, ada sebuah fragmen sejarah yang menyoroti sisi kemanusiaannya. Ketika putra sulung Tokugawa Ieyasu, Nobuyasu, dituduh melakukan pengkhianatan dan diperintahkan untuk melakukan seppuku (bunuh diri), Ieyasu menunjuk Hanzo sebagai orang yang bertugas memenggal kepala putranya untuk mengakhiri penderitaan. Dalam momen tersebut, Hanzo yang terkenal kejam menolak melakukan tugas itu. Ia terlalu setia dan tidak tega membiarkan pedangnya berlumuran darah putra tuannya, sebuah sikap yang membuat Ieyasu tersentuh dan menyadari bahwa “bahkan setan pun bisa meneteskan air mata”.

Kisah ini memberikan pesan moral yang luar biasa tentang batas antara kewajiban dan rasa kemanusiaan (kasih sayang). Dalam konteks kehidupan Islam di Jepang, nilai ini selaras dengan konsep Rahmatan lil ‘Alamin yang diajarkan oleh Nahdlatul Ulama. Sebagaimana Hanzo yang menolak kekejaman membabi buta terhadap keluarga tuannya, seorang santri di Jepang dididik untuk mengutamakan kasih sayang dan kebijaksanaan dalam menyikapi setiap tantangan. Fikih minoritas (Fiqh al-Aqalliyat) menuntut kita untuk setia (loyal) pada tauhid, namun tetap mengedepankan kemanusiaan dan empati kepada sesama, terlepas dari perbedaan latar belakang.

Keterbukaan Pemimpin: Mengambil Pelajaran dari Date Masamune

Menjaga tradisi tidak berarti menutup diri dari perkembangan dunia luar. Hal ini dipraktikkan oleh daimyo (tuan tanah) kuat dari utara, Date Masamune. Sebagai tokoh yang membangun kota Sendai menjadi besar dan makmur, Masamune dikenal tidak hanya agresif secara militer, tetapi juga sangat terbuka terhadap budaya asing. Ia menunjukkan simpati pada misionaris, mengembangkan perdagangan, dan bahkan membiayai pembuatan kapal bergaya Eropa, San Juan Bautista, untuk mengirim utusan untuk menjalin hubungan diplomatik dengan Paus di Roma pada masa itu.

Keterbukaan Masamune untuk mempelajari hal baru (Barat) tanpa kehilangan kekuatannya di Jepang adalah representasi dari kaidah ushul fiqh yang sering dipegang teguh oleh NU: “Al-Muhafazhah ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah” (Memelihara tradisi lama yang baik, dan mengambil tradisi baru yang lebih baik). Bagi umat Islam di Jepang, mengadopsi etos kerja, kedisiplinan, teknologi, dan budaya positif Jepang sangatlah dianjurkan, asalkan tidak mengorbankan akar akidah. Dinamika kehidupan minoritas Muslim justru diperkaya ketika kita mampu berdialog dan bekerja sama dengan masyarakat lokal Jepang.

Kamon dan Bendera Identitas Kebersamaan

Pada abad ke-12 dan masa-masa perang antarklan seperti Perang Genpei antara klan Minamoto dan Taira, identitas kelompok menjadi sangat penting. Hal ini ditunjukkan dengan penggunaan Kamon (lambang keluarga). Di era Muromachi hingga Sengoku, klan-klan samurai menggunakan kamon pada bendera dan peralatan mereka untuk menyatukan barisan dan membedakan kawan dari lawan.

Bagi PCINU Jepang, lambang Nahdlatul Ulama dengan tali jagat dan sembilan bintang adalah kamon spiritual kita. Lambang ini bukan untuk memicu permusuhan seperti di era peperangan samurai, melainkan sebagai penanda identitas persatuan, perdamaian, dan persaudaraan sesama perantau.

Pada akhirnya, belajar dari Jepang bukan hanya mengagumi kecanggihan teknologi masa kininya, tetapi juga menyelami filosofi masa lalunya. Semangat bushido yang penuh integritas, keberanian menolak nurani yang mati ala Hattori Hanzo, serta visi toleransi dari Date Masamune, dapat memperkaya cara pandang diaspora Muslim. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai sejarah ksatria Jepang ini ke dalam prinsip Islam Nusantara, kita dapat melahirkan wajah Islam di Jepang yang santun, tangguh, dan senantiasa relevan melintasi zaman.

Penulis: Afidatul Asmar
Editor: Dina Faoziah

AfidatulAsmar adalah dosen dan peneliti pada Bidang Antropologi Dakwah IAIN Parepare serta alumnus Lemhannas RI. Minat kajiannya meliputi dakwah, komunikasi keagamaan, dan pembacaan budaya populer dalam perspektif Islam.