Webinar Halal Center PCI NU Jepang: “Tantangan dan Solusi Halal bagi Muslim di Jepang”

Webinar Halal Center PCINU Jepang

Halal Center PCI NU Jepang menyelenggarakan webinar bertajuk “Tantangan dan Solusi Halal bagi Muslim di Jepang” sebagai bagian dari upaya meningkatkan pemahaman masyarakat Muslim tentang pentingnya konsumsi halal serta tantangan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari di Jepang. Acara ini selenggarakan secara online pada hari Sabtu, 14 maret 2026. Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber yang kompeten di bidang halal, yaitu Dr. Hj. Jeni Susyanti, SE., MM., BKP., CBV, Ketua Lembaga Pemeriksa Halal Universitas Islam Malang (UNISMA), dan Dr. Eng. Marlinda, M.Eng, Konsultan Sertifikasi Halal di Yano Research Institute, Jepang.

Acara diawali dengan pembukaan dan sambutan dari Ketua Halal Center PCI NU Jepang, Muhammad Bisri Musthafa, Ph.D. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa Halal Center merupakan salah satu lembaga di bawah koordinasi PCI NU Jepang yang memiliki tugas memberikan edukasi mengenai halal sekaligus mendorong proses sertifikasi halal terhadap berbagai produk dan restoran di Jepang. Ia juga menyoroti berbagai permasalahan halal yang dihadapi umat Muslim di Jepang, sehingga diperlukan kesadaran dan pemahaman yang lebih baik agar umat Muslim dapat lebih berhati-hati dalam memilih produk yang dikonsumsi.

Pada sesi materi pertama, Dr. Hj. Jeni Susyanti menjelaskan tentang pentingnya konsep halal dalam kehidupan seorang Muslim melalui tema “Kenapa Halal itu Penting? Antara Ketaatan Agama dan Dampak Kehidupan.” Ia menegaskan bahwa halal bukan sekadar persoalan hukum agama, tetapi juga berkaitan dengan konsep thayyib, yaitu sesuatu yang baik, lezat, menyenangkan, bersih, dan suci. Halal juga berarti tidak mengandung unsur najis, tidak rusak atau kadaluarsa, serta tidak membahayakan fisik maupun akal manusia. Sehingga, konsep thayyib berlaku untuk semua umat manusia secara umum.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa makanan halal memiliki dampak yang luas terhadap kehidupan manusia, di antaranya mempengaruhi pertumbuhan tubuh dan kecerdasan akal karena makanan mengandung zat-zat penting yang dibutuhkan tubuh. Selain itu, makanan yang dikonsumsi juga dapat mempengaruhi sifat dan perilaku seseorang, perkembangan anak dan keturunan, serta diterima atau tidaknya amal ibadah dan doa. Bahkan, menurutnya, makanan halal juga berkaitan dengan keselamatan manusia di akhirat.

Sebaliknya, ia juga mengingatkan dampak negatif dari mengonsumsi makanan haram. Di antaranya adalah doa yang tidak dikabulkan, amalan yang tidak diterima, berkurangnya keimanan, rusaknya keturunan, serta konsekuensi akhir berupa pertanggungjawaban di akhirat. Pada akhir pemaparannya, Dr. Jeni juga menyinggung perkembangan pasar halal global yang saat ini justru banyak didominasi oleh negara-negara non-Muslim seperti China, India, Brasil, dan Amerika Serikat. Hal ini menunjukkan bahwa industri halal memiliki potensi ekonomi yang sangat besar dan menjadi perhatian dunia.

Sementara itu, pada sesi berikutnya, Dr. Eng. Marlinda menggambarkan kondisi masyarakat Jepang dari sisi keberagamaan. Berdasarkan hasil riset NHK pada tahun 2018, hanya sekitar 36 persen masyarakat Jepang yang mengaku mempercayai agama, dengan mayoritas menganut Buddha. Sementara itu, jumlah Muslim di Jepang diperkirakan sekitar 420 ribu orang, yang terdiri dari sekitar 363 ribu warga negara asing dan 55 ribu warga negara Jepang, atau sekitar 0,3 persen dari total populasi Jepang. Di sisi lain, jumlah wisatawan dari negara-negara mayoritas Muslim yang datang ke Jepang juga cukup besar. Pada tahun 2025 tercatat wisatawan dari Malaysia mencapai sekitar 637 ribu orang, Indonesia sekitar 646 ribu orang, dan Turki sekitar 107 ribu orang.

Dalam konteks ini, kebutuhan akan produk halal menjadi semakin penting. Dr. Marlinda menjelaskan beberapa istilah penting dalam konsep halal, seperti halal, haram, thayyib, syubhat, najis, dan mutanajjis, yang perlu dipahami oleh umat Muslim dalam memilih produk konsumsi maupun barang yang digunakan sehari-hari.

Menurutnya, salah satu tantangan terbesar bagi Muslim di Jepang adalah kompleksitas bahan dalam produk modern. Seiring perkembangan teknologi pangan dan industri, banyak bahan turunan yang sulit dikenali asal-usulnya oleh masyarakat umum. Selain itu, kebiasaan masyarakat Jepang yang sering menggunakan bahan seperti babi, sake, dan mirin sebagai bumbu masakan juga menambah tantangan tersendiri bagi Muslim.

Sebagai solusi praktis, Dr. Eng. Marlinda memberikan beberapa tips bagi Muslim yang tinggal di Jepang dalam mencari produk halal. Pertama, mencari produk yang telah memiliki sertifikasi halal, yang dapat ditemukan di toko bahan halal, toko Asia, maupun supermarket tertentu seperti Gyomu Supa yang memiliki lebih dari seribu cabang di seluruh Jepang dan menyediakan berbagai produk impor bersertifikat halal.

Kedua, memanfaatkan aplikasi halal seperti Halal Japan App atau Halal Gourmet App. Namun demikian, ia mengingatkan bahwa aplikasi tersebut bukan lembaga sertifikasi halal sehingga tetap perlu kehati-hatian dalam penggunaannya.

Ketiga, membaca dengan teliti komposisi bahan pada kemasan produk. Di Jepang, aturan pelabelan mewajibkan pencantuman delapan jenis alergen utama seperti udang, kepiting, kenari, gandum, soba, telur, susu, dan kacang. Selain itu, terdapat pula sekitar dua puluh jenis alergen lain yang dianjurkan untuk dicantumkan.

Keempat, apabila diperlukan, konsumen dapat menghubungi layanan pelanggan perusahaan untuk menanyakan detail bahan produk. Namun dalam beberapa kasus, perusahaan besar tidak selalu bersedia memberikan informasi rinci apabila pertanyaan tersebut berkaitan dengan alasan keagamaan atau menyangkut rahasia perusahaan.

Ia juga memberikan beberapa contoh produk yang perlu diperhatikan oleh Muslim di Jepang, seperti shoyu (kecap Jepang) yang sering ditambahkan alkohol sebagai pengawet, miso yang terkadang mengandung alkohol, vanila essence yang dapat mengandung alkohol hingga lebih dari 30 persen sebagai pelarut, serta beberapa jenis obat batuk cair yang juga menggunakan alkohol sebagai pelarut.

Pada bagian akhir, Ia menekankan bahwa bagi Muslim yang tinggal di negara minoritas seperti Jepang, seringkali tidak mudah untuk mengetahui secara rinci bahan dan proses produksi suatu makanan. Oleh karena itu, pemahaman terhadap fatwa ulama serta standar halal yang berkembang di negara Muslim seperti Indonesia dapat menjadi rujukan dalam mengambil keputusan.

Melalui kegiatan webinar ini, Halal Center PCI NU Jepang berharap dapat meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat Muslim tentang pentingnya halal, sekaligus memberikan panduan praktis dalam menghadapi tantangan konsumsi halal di Jepang. Ke depan, Halal Center PCI NU Jepang akan terus berupaya memperkuat edukasi halal serta mendorong semakin banyak produk dan restoran di Jepang untuk memperoleh sertifikasi halal demi mendukung kebutuhan komunitas Muslim yang terus berkembang.

Kontributor: Muhammad Bisri Musthafa