Peringati Nuzulul Qur’an, LD PCINU Jepang Ajak Warga NU Perkuat Kedekatan dengan Al-Qur’an
NIIGATA- Lembaga Dakwah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (LD PCINU) Jepang menggelar peringatan malam Nuzulul Qur’an secara hybrid pada Sabtu (7/3/2026). Kegiatan yang diikuti secara daring melalui Zoom dan luring oleh warga Nahdliyin di Jepang ini menjadi ajang mempererat silaturahmi sekaligus menguatkan komitmen dakwah Ahlussunnah wal Jamaah di Negeri Sakura.
Ketua PCINU Jepang, KH Ahmad Ghazali, Ph.D, dalam sambutannya menegaskan bahwa Lembaga Dakwah PCINU Jepang memiliki peran strategis sebagai garda terdepan dalam menyebarkan paham Aswaja an-Nahdliyah di Jepang. Menurutnya, keberadaan lembaga tersebut menjadi salah satu pilar penting dalam mendukung aktivitas dakwah dan pembinaan keagamaan bagi komunitas Muslim, khususnya warga Nahdlatul Ulama yang berada di perantauan.
“LD PCINU Jepang diharapkan terus menjadi corong dakwah Aswaja sekaligus memperkuat jaringan keagamaan warga NU di Jepang,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua LD PCINU Jepang, Kyai Ramdhani, menyampaikan bahwa peringatan Nuzulul Qur’an tidak hanya sebagai agenda seremonial, melainkan momentum untuk menumbuhkan kembali kedekatan umat Islam dengan Al-Qur’an. Ia menekankan bahwa Al-Qur’an merupakan pedoman hidup yang mengatur berbagai aspek kehidupan manusia.
“Melalui momentum Nuzulul Qur’an ini, kita diingatkan untuk terus menjadikan Al-Qur’an sebagai landasan dalam menjalani kehidupan, baik dalam aspek ibadah, sosial, maupun moral,” katanya.
Acara tersebut turut dihadiri Rais Syuriah PCINU Jepang KH Agus Sulipan, KH Musyaffa’, serta jajaran pengurus PCINU Jepang lainnya. Dalam kesempatan itu, hadir sebagai narasumber KH Mohammad Khoiron, dai global Lembaga Dakwah PBNU sekaligus Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail PWNU DKI Jakarta.
Dalam pemaparannya, KH Khoiron menjelaskan makna Nuzulul Qur’an dari perspektif kajian ulumul Qur’an. Mengutip karya Al-Madkhal li Dirâsatil Qur’ân al-Karîm karya Muhammad Abu Syuhbah, ia menjelaskan bahwa secara etimologis kata nuzûl bermakna “turun” atau “berdiam di suatu tempat”. Dalam penggunaan bahasa Arab, istilah tersebut juga merujuk pada perpindahan sesuatu dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah.
Secara terminologis, lanjutnya, Nuzulul Qur’an dipahami sebagai turunnya Al-Qur’an dari Allah s.w.t. kepada Nabi Muhammad s.a.w. melalui perantaraan wahyu. Ia juga menjelaskan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an dapat dilihat dari dua kategori berdasarkan sebab turunnya. Pertama, ayat ibtidâ’i, yaitu ayat yang turun tanpa didahului sebab tertentu, umumnya berkaitan dengan kisah umat terdahulu atau informasi tentang perkara gaib seperti surga, neraka, dan alam barzakh. Kedua, ayat sababî, yakni ayat yang turun karena adanya sebab atau peristiwa tertentu.
Sebagai contoh, ia menyebut ayat tentang pertanyaan para sahabat mengenai bulan sabit dalam Surah Al-Baqarah ayat 189 yang menjelaskan fungsi hilal sebagai penanda waktu bagi manusia dan ibadah haji. Contoh lain adalah Surah Al-Mujadilah ayat 1 yang turun sebagai respons terhadap pengaduan Khaulah binti Tsa’labah terkait praktik zihar dalam tradisi Arab Jahiliyah.
Lebih lanjut, KH Khoiron menerangkan bahwa proses turunnya Al-Qur’an terjadi dalam dua bentuk. Pertama adalah nuzul daf‘i, yakni turunnya Al-Qur’an secara sekaligus pada malam Lailatul Qadar di bulan Ramadhan dalam bentuk hakikatnya. Kedua adalah nuzul tadrīji atau bertahap, yaitu turunnya wahyu secara berangsur-angsur selama 23 tahun masa kenabian.
“Proses turunnya Al-Qur’an secara bertahap ini berkaitan erat dengan berbagai peristiwa sosial yang terjadi pada masa Nabi, sehingga ayat-ayat Al-Qur’an hadir sebagai jawaban dan petunjuk bagi umat,” jelasnya.
Ia menambahkan, wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad s.a.w. adalah lima ayat awal Surah Al-‘Alaq ketika beliau berada di Gua Hira. Setelah itu, wahyu terus turun secara berangsur selama 13 tahun di Makkah dan 10 tahun di Madinah. Menurutnya, periode Makkah lebih menitikberatkan pada penguatan akidah, tauhid, dan pembinaan akhlak, sedangkan periode Madinah menekankan pada pengaturan hukum syariat serta tata kehidupan sosial masyarakat Muslim.
KH Khoiron juga menegaskan bahwa Al-Qur’an memiliki kandungan yang sangat luas, meliputi ajaran akidah, ibadah, akhlak, muamalah, kisah-kisah umat terdahulu, janji dan ancaman, hingga berbagai pengetahuan.
Selain itu, ia menyoroti kedudukan sunnah Nabi dalam Islam yang berfungsi memperkuat sekaligus menjelaskan ajaran Al-Qur’an. Salah satu fungsinya adalah bayân al-taqrîr wa al-ta’kîd, yakni menegaskan kembali ketentuan yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an, seperti hadis Nabi tentang kewajiban berpuasa setelah melihat hilal.
“Dengan memahami hubungan antara Al-Qur’an dan sunnah, umat Islam dapat memahami ajaran Islam secara lebih utuh dan komprehensif,” ujarnya.
Peringatan Nuzulul Qur’an yang digelar oleh LD PCINU Jepang ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang refleksi spiritual, tetapi juga memperkuat komitmen warga Nahdliyin di Jepang untuk terus menghidupkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari, sekaligus memperkuat dakwah Islam moderat di tengah masyarakat global. (Ramdani)
Sumber: https://www.risalahnu.com/14292/2026/03/08/peringati-nuzulul-quran-ld-pcinu-jepang-ajak-warga-nu-perkuat-kedekatan-dengan-al-quran/
