Meraih Baitullah dari Negeri Sakura: Catatan Penting Calon Jamaah Haji Indonesia di Jepang
Pimpinan Cabang Istimewa (PCI) Muslimat NU Jepang bersama PCI Fatayat NU Jepang telah menggelar forum diskusi dan edukasi berjudul “Meraih Baitullah dari Negeri Sakura” melalui Zoom Meeting, Sabtu (8/8/2026).
Kegiatan ini diinisiasi Bidang Pendidikan dan Pelatihan PCI Muslimat NU Jepang sekaligus berkolaborasi dengan PCI Fatayat NU Jepang untuk upaya memberikan panduan bagi warga muslim Indonesia di Jepang yang hendak menunaikan ibadah haji.
Acara dimulai pukul 19.00 JST dan dipandu Yuni dari Gifu selaku MC (Master of Ceremony). Rangkaian pembukaan meliputi pembacaan ayat suci al-Qur’an, lagu Indonesia Raya dan Ya Lal Wathan.
Dalam sambutannya, Ketua PCI Muslimat NU Jepang, Nur Syamsiyah, S.Sos.I., yang akrab disapa Ade, menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta dan narasumber.
“Kami mengucapkan banyak terima kasih atas kehadiran dan mohon maaf apabila ada kekurangan dalam acara ini. Semoga webinar ini membawa banyak pencerahan dan kita semua dipantaskan untuk menjadi tamu Allah. Aamiin,” ujar Ade yang dilantik menjadi ketua PCI Muslimat Jepang di Ibaraki tahun lalu.

Diskusi panel kemudian dipandu oleh Diyah R. Tohari, S.Pd., M.A., Ph.D., selaku moderator sekaligus Ketua Bidang Pendidikan dan Pelatihan PCI Muslimat NU Jepang.
1. Persiapan Dokumen Administrasi
Narasumber pertama, Yessi Rahmawati, S.E., M.Ec., Alumni Haji 2026 yang tinggal di Kyoto, membagikan pengalamannya mengurus administrasi keberangkatan haji dari Jepang melalui aplikasi Nusuk.
Beliau menekankan pentingnya menyiapkan dokumen dengan benar: bukti domisili valid, hindari foto dokumen buram, serta melampirkan dokumen seperti lease contract, employment certificate, utility bill, dan mutasi rekening 6 bulan terakhir. Tantangan terbesar disebutnya adalah mengatur format file agar tidak di-reject oleh sistem.
“Proses administrasi yang rumit bukanlah tanda kita ditinggalkan. Justru itu cara Allah agar kita lebih matang dan siap secara mental,” ungkap Yessi.
2. Manajemen Keuangan dan Target Dana Haji
Yessi juga menyoroti pentingnya manajemen keuangan. Ia menyarankan untuk memisahkan rekening tabungan khusus haji dan menghitung target secara rinci: biaya paket, tiket, perlengkapan, cek kesehatan, hingga dana darurat.
“Semakin jelas targetnya, semakin realistis strategi menabungnya,” jelasnya.
3. Kesiapan Fisik, Regulasi, dan Tantangan di Armuzna
Narasumber kedua, Nurul Septiani, SKM., M.Sos., Alumni Haji 2023, menekankan pentingnya latihan fisik karena saat Beliau di Armuzna (Arafat, Muzdalifah, dan Mina), beliau jalan kaki sekitar 50 km karena saat Idul Adha hampir tidak ada taksi dan bus yang beroperasi.
Beliau juga membagikan tips saat di Muzdalifah dan Mina untuk membawa botol kosong sekitar 400 ml untuk berwudhu karena situasi yang sangat padat oleh para jamaah dan hanya memprioritaskan rukun wudlu saja saat kondisi darurat. Selain itu, bagi peserta yang mempunyai anak kecil di keluarganya, beliau menyarankan menyiapkan opsi pengasuhan, seperti menitipkan anak ke Indonesia atau mendatangkan orang tua atau saudara ke Jepang.
Selain itu, Nurul juga mengingatkan pentingnya koordinasi antar-jamaah dari Jepang mengingat 70-80% jamaah dari Jepang adalah WNI yang sebaiknya sebelum berangkat haji penting untuk mempelajari fikih haji, seperti mengetahui rukun dan wajib haji.
Kegiatan ditutup dengan doa bersama dan sesi tanya jawab yang berlangsung antusias.
Forum ini menjadi bekal berharga bagi calon jamaah haji Indonesia di Jepang untuk mempersiapkan diri secara administrasi, finansial, fisik, maupun pemahaman fikih haji. Semoga ikhtiar bersama ini membawa keberkahan bagi seluruh calon tamu Allah menuju Baitullah.
Kontributor: Zayyin, PCI Muslimat NU Jepang
