Ketika Islam Justru Hidup di Negeri Matahari Terbit

Ketika Islam Justru Hidup di Negeri Matahari Terbit

Jika Syeikh Muhammad Abduh mengatakan, “Saya melihat Islam di Eropa, tetapi saya tidak melihat muslim di sana. Saya melihat Muslim di Timur, tetapi saya tidak melihat Islam di sana,” maka kami katakan, “Kami melihat Islam di Jepang, tetapi kami tidak melihat muslim di sana.”

Tentu, maksud dari perkataan ini tentu saja bukan sama sekali tidak ada muslim di Jepang. Justru sebaliknya, pertumbuhan komunitas muslim di Jepang menunjukkan tren kenaikan yang signifikan dalam satu dekade terakhir. Berdasarkan data demografi yang disusun oleh Prof. Hirofumi Tanada dari Universitas Waseda, populasi muslim di Jepang tercatat meningkat secara konsisten setiap tahunnya, dari sekitar 230.000 jiwa pada akhir tahun 2019 menjadi sekitar 420.000 jiwa pada akhir tahun 2024 (Tanada, 2025). Lonjakan ini mencerminkan kenaikan tahunan yang signifikan, yang dipicu oleh kebijakan perluasan penerimaan tenaga kerja asing, meningkatnya jumlah mahasiswa internasional, serta integrasi sosial yang lebih luas di tengah masyarakat Jepang.

Uniknya, Jepang sebelum Islam berkembang seperti sekarang ini sudah menjadi negara maju dan beradab. Bagaimana tidak, lihatlah kebersihan di negara ini. Lihatlah para pejabatnya ketika malu tidak bisa melaksanakan tugasnya, mereka lebih memilih mengundurkan diri daripada harus melanjutkan jabatannya. Lihatlah keramahtamahan warga lokal Jepang terhadap orang luar. Ditambah lagi, Negara Matahari Terbit yang beradab ini masih mempercayai tradisi Shinto. Lalu bagaimana dengan negara-negara Islam yang katanya rahmatan lil ‘alamin itu?

Ketika Islam sedang berada di masa keemasan di masa Kekhalifahan Abbasiyah, Eropa masih tinggal di ‘Abad Kegelapan’. Pada masa itu para raja dan ratu di Eropa tunduk atas otoritas gereja, tetapi peradaban Islam Justru sedang menunjukkan kejayaanya.

Baghdad, ibu kota Khilafah Abbasiyah masa itu menjadi pusat peradaban dunia. Dari bidang Matematika ada Al-Khawarizmi yang menyempurnakan dan memperkenalkan sistem angka Hindu-Arab—termasuk angka nol yang sebelumnya berkembang di India—ke dunia Islam dan Eropa; dari namanya pula lahir istilah “algoritma” yang kini menjadi dasar ilmu komputasi modern (ICC Jakarta, 2019; Murianews, 2025). 

Dalam bidang kesehatan ada Ibnu Sina, dengan bukunya yang terkenal, Al-Qanun fi Al-Tibb, yang menjadi rujukan utama kedokteran di Eropa hingga abad ke-17/18. Mata uang umat Islam saat itu (dinar dan dirham) menjadi mata uang yang beredar luas hingga ke Eropa; arkeolog bahkan menemukan tiruan dirham era Harun Ar-Rasyid di Osbaston, Leicestershire, Inggris, di samping ribuan dirham Abbasiyah lain yang tersimpan dalam berbagai harta karun Viking seperti Cuerdale Hoard (Kompas.com, 2022; Viking Metalwork, 2021; Ancient Origins, 2021). 

Kejayaan Islam bukan monopoli Abbasiyah di Baghdad semata. Di ujung barat dunia Islam kala itu, Cordoba—ibu kota Dinasti Umayyah II di Andalusia, Spanyol—menorehkan kegemilangan yang setara. Pada masa Khalifah Abdurrahman III (912–961 M) dan puteranya, Al-Hakam II (961–976 M), Cordoba tumbuh menjadi salah satu kota terbesar di dunia dengan populasi mencapai sekitar setengah juta jiwa. Al-Hakam II mendirikan Perpustakaan Cordoba yang menyimpan ratusan ribu manuskrip, dengan katalog judul bukunya saja mencapai 44 jilid (Kisahmuslim.com, 2015; Iqbal & Setiawan, 2023). 

Dari kota ini pula lahir Az-Zahrawi (Albucasis), yang dijuluki Bapak Bedah Modern; karyanya, Al-Tasrif, menjadi buku teks bedah standar di Eropa selama berabad-abad. Abdurrahman III bahkan mendirikan Universitas Cordoba yang usianya mendahului Al-Azhar di Kairo maupun Madrasah Nizhamiyah di Baghdad (SwaraWarta, 2026; Iqbal & Setiawan, 2023). Jadi, kejayaan peradaban Islam pernah bersemi hampir serentak dari timur hingga barat dunia Islam, bukan hanya milik satu dinasti atau satu kota.

Lalu yang jadi pertanyaannya sekarang ialah, kemana semua kejayaan Islam itu sekarang? Jika kita menilik negara-negara yang mayoritas Islam, sebagian dari mereka sedang terlibat perang saudara berkepanjangan seperti di Suriah, Yaman, dan Libya (Sindonews, 2023; Serambimuslim, 2025), tempatnya kumuh, pemerintahnya korupsi—meski persoalan korupsi ini juga masih membelit banyak negara lain, termasuk Indonesia sendiri yang skornya masih rendah dalam Corruption Perceptions Index (Transparency International, 2025)—dan sebagian teknologinya tertinggal dibanding negara-negara maju. 

Ke mana semua kejayaan itu? Jika kita melihat Jepang dengan segala teknologinya, kebersihanya, kesopanannya, kita sebagai bangsa dengan populasi muslim terbanyak di dunia (Pew Research Center dalam Shia Waves, 2026), apakah negara kita tertinggal jika dibandingkan? dengan berat hati penulis mengatakan bahwasannya negara kita tertinggal dalam banyak hal. 

Allah berfirman dalam Al-Qur’an Q.S. Ali ‘Imran (3): 140. 

Masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran).”

Islam pernah mengalami kejayaan, dan sekarang negara-negara selain Islam sedang Allah tinggikan derajatnya. Bukan berarti Allah sedang meninggalkan agama-Nya. Justru itulah hukum Allah. Di mana hidup ini seperti roda kadang di atas dan kadang di bawah. Lantas ketika umat Islam sedang diuji oleh Allah bukan berarti kita harus meninggalkan dan menutup mata begitu saja. 

Seharusnya kejadian ini menjadi pelajaran bagi umat muslim dan menjadikan evaluasi bersama. Kita tidak bisa terus menerus hidup di dalam kalimat, “Dulu Islam pernah…” Apakah kita sebagai umat muslim sudah menjalankan benar-benar syariat-Nya atau hanya terlintas di mulut saja dan mengatakan, “Saya muslim meski bermaksiat.” Tanggung jawab ini tidak hanya dibebankan di sebagian orang saja tetapi dibebankan kepada semua orang yang sudah bersyahadat. 

Marilah kita sebagai umat muslim sudah seharusnya bersama-sama kita menjadi umat terbaik yaitu umat yang mengajak dalam kebaikan dan mencegah kemungkaran (amar ma’ruf nahi munkar). Karena kejayaan umat ini tidak bisa dicapai oleh satu-dua orang saja, tetapi semua umat muslim harus bahu membahu untuk meraih kemuliaan itu. Menjadikan umat ini sebagai peradaban dunia seperti kata Nabi Muhammad. Islam ini ialah rahmatan lil ‘alamin. wallahu a’lam.

Oleh: Kagan Wibowo, Mahasiswa Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga

Daftar Pustaka

Ancient Origins. (2021). England’s Viking Cuerdale Hoard Is The Second Biggest Of Them All! Diakses dari https://www.ancient-origins.net/artifacts-other-artifacts/cuerdale-hoard-0015948

Hidayatuna. (2021). Rasionalitas Muhammad Abduh. Diakses dari https://hidayatuna.com/rasionalitas-muhammad-abduh/

ICC Jakarta. (2019). Al-Khawarizmi, Sang Penemu Algoritma. Diakses dari https://icc-jakarta.com/al-khawarizmi-sang-penemu-algoritma/

Iqbal, R., & Setiawan, A. M. (2023). Perpustakaan Islam Cordoba: Kiblat Peradaban Ilmu Pengetahuan di Era Dinasti Bani Umayyah II 961-976. Jurnal Tajdid. Diakses dari https://ejournal.iaimbima.ac.id/index.php/tajdid/article/download/3101/1173/

Kisahmuslim.com. (2015). Perpustakaan Bani Umayyah di Andalusia. Diakses dari https://kisahmuslim.com/5053-perpustakaan-bani-umayyah-di-andalusia.html

Kompas.com. (2022). Al-Qanun Fi At-Tibb, Kitab Pengobatan Karya Ibnu Sina. Diakses dari https://www.kompas.com/stori/read/2022/02/21/140000779/al-qanun-fi-at-tibb-kitab-pengobatan-karya-ibnu-sina

Murianews.com. (2025). Kisah Al Khawarizmi dan Penemuan Angka Nol yang Mengubah Peradaban. Diakses dari https://edukasi.murianews.com/zulkifli-fahmi/435648/kisah-al-khawarizmi-dan-penemuan-angka-nol-yang-mengubah-peradaban

Quran.com. Tafsir Surah Ali ‘Imran Ayat 140. Diakses dari https://quran.com/3:140

Serambimuslim.com. (2025). Lebaran di Tengah Perang: 4 Negara Islam Berkonflik. Diakses dari https://www.serambimuslim.com/berita/lebaran-di-tengah-perang-4-negara-islam-berkonflik/

Shia Waves. (2026). Global Muslim Population Concentrated in Asia; Indonesia and Pakistan Lead in 2025 (mengutip Pew Research Center). Diakses dari https://shiawaves.com/english/india/138817-global-muslim-population-concentrated-in-asia-indonesia-and-pakistan-lead-in-2025/

Sindonews. (2023). 9 Perang Saudara Terlama di Dunia, 5 di Antaranya di Negara Mayoritas Muslim. Diakses dari https://international.sindonews.com/read/1160665/45/9-perang-saudara-terlama-di-dunia-5-di-antaranya-di-negara-mayoritas-muslim-1690348063

SwaraWarta.co.id. (2026). Jelaskan Perkembangan Ilmu pada Masa Bani Umayyah di Andalusia? Berikut Ini Penjelasannya! Diakses dari https://www.swarawarta.co.id/2026/06/jelaskan-perkembangan-ilmu-pada-masa-bani-umayyah-di-andalusia-berikut-ini-penjelasannya.html

Tanada, H. (2025). Muslim Population in Japan 2024/2025 (Research Papers: Muslims in Japan). Waseda University, Institute of Multi-ethnic and Multi-generational Societies.

Transparency International. (2025). Corruption Perceptions Index 2024 – Indonesia. Diakses dari https://www.transparency.org/en/cpi/2024/index/idn

Viking Metalwork. (2021). Silver from the Caliphate: Islamic Dirhams in Viking-Age England. Diakses dari http://vikingmetalwork.blogspot.com/2021/04/silver-from-caliphate-islamic-dirhams.html