Abadikan Kisah Perjuangan di Jepang, Muslimat NU Jepang Gagas Buku “Muslimah Monogatari”

Abadikan Kisah Perjuangan di Jepang, Muslimat NU Jepang Gagas Buku “Muslimah Monogatari”

Jepang – Pimpinan Cabang Istimewa (PCI) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Jepang sukses menyelenggarakan kegiatan diskusi dan sosialisasi penulisan buku bertajuk “Muslimah Monogatari: Kisah Perjuangan Muslimah Indonesia di Jepang”. Kegiatan daring melalui platform Zoom Meeting pada Sabtu, 17 Oktober 2026 ini digelar dalam rangka menyemarakkan Hari Lahir (Harlah) PCI Muslimat NU Jepang yang ke-9.

Acara dibuka dengan sambutan  dari Ketua PCI Muslimat NU Jepang, Nur Syamsiyah, S.Sos.I.,  yang akrab disapa Ade. Dalam sambutannya, beliau menekankan bahwa tujuan dari penulisan buku bersama ini sangat sederhana, yaitu ingin mendokumentasikan perjuangan para Muslimat di Jepang agar tidak hilang begitu saja. Buku ini diharapkan bisa menjadi jejak tersendiri dan media yang saling menguatkan antar-sesama Muslimat perantauan.

“Tujuan dari penulisan buku ini tidak lain dan tidak bukan sebenarnya sangat simpel. Pertama, hanya ingin mendokumentasikan, sehingga perjuangan Bunda selama di Jepang ini tidak hilang begitu saja ditelan oleh waktu. Namun, juga bisa menjadi atau memiliki jejak tersendiri seperti itu. Itu yang pertama. Kemudian yang kedua, buku ini bisa menjadi sesuatu yang saling menguatkan antara satu dengan yang lain. Apalagi di sini kita memiliki latar belakang yang berbeda,” paparnya.

Lebih lanjut, Ade menjelaskan visi jangka panjang dari proyek buku Muslimah Monogatari ini sebagai warisan sejarah untuk generasi mendatang. Beliau ingin agar anak cucu keturunan kelak bisa mengetahui potret perjuangan riil ibunya selama hidup di perantauan Negeri Sakura.

“Dan tujuan yang terakhir dari penulisan buku ini adalah untuk mewariskan. Kita bisa wariskan ini 10, 20, 30 tahun yang akan datang kepada anak cucu keturunan kita ketika ditanya bagaimana Bunda ketika di Jepang seperti apa. Di sini kita tidak hanya bercerita, tetapi kita juga bisa memberikan buku ini bahwasannya  Bunda pernah menuliskannya dalam sebuah kisah di buku ini,” tegasnya.

Ade juga membedah makna dari judul yang dipilih, di mana kata “Monogatari” diambil dari bahasa Jepang yang memiliki arti kisah-kisah. “Monogatari tersebut diambil dari bahasa Jepang yang artinya kisah-kisah. Kisah seorang muslimah, kisah perjuangan muslimah Indonesia selama tinggal di negeri Sakura Jepang,” pungkasnya.

Sementara itu, perwakilan dari Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Islam Indonesia (UII),  Adelia Anju Asmara, S.T., M.Eng., Ph.D., mengaku sangat terinspirasi oleh istilah Monogatari yang digagas oleh  Ade untuk merangkum kisah perjuangan para ibu dan pemudi sekalian di Jepang. Beliau memaparkan bahwa buku ini akan menjadi wadah dakwah bilkitabah (dakwah melalui tulisan) sekaligus investasi akhirat berupa amal jariyah yang tidak terputus hingga ke liang lahad.

Anju berharap program ini mampu melahirkan karya nyata yang menebar kemaslahatan bagi umat, selaras dengan cita-cita luhur UII untuk mencetak umat yang berkarakter rahmatan lil ‘alamin dan bermanfaat bagi alam semesta.

“Dapat menuangkan segala kisahnya, tadi mungkin tidak hanya dari bagaimana cara mengasuh anak, tetapi nanti mungkin juga kisah-kisah inspiratif lainnya. Misalkan saat melanjutkan studi di Jepang atau mungkin nanti dari Mbak-mbak ada juga yang ingin bercerita bagaimana kerasnya atau disiplinnya kerja atau budaya di Jepang itu seperti apa dan lain-lain. Jadi harapannya sesuai pesan dari Kanjeng Nabi itu sendiri bahwa salah satu amal yang tidak terputus sampai nanti kita di liang lahad adalah amal jariyah. Nah, salah satunya adalah kita dakwah bil kitabah (melalui tulisan). Begitu, yaitu bisa berdakwah menggunakan buku,” paparnya.

Memasuki sesi inti, sosialisasi dan bimbingan teknis kepenulisan dipandu langsung oleh narasumber inspiratif nasional, Ikrom Mustofa, S.Si., M.Sc. Dosen Teknik Lingkungan UII Yogyakarta sekaligus Pengurus PCI NU Belanda ini mengajak para muslimat untuk segera memulai menulis. Menurutnya, menulis bisa dimulai secepatnya kapan saja dan di mana saja dari media apapun yang paling dekat, seperti status harian di media sosial.

Ikrom menekankan satu esensi paling krusial agar sebuah karya tulis mampu memikat pembaca, yakni kejujuran yang mengalir langsung dari hati agar tulisan tersebut terasa hidup dan memiliki “nyawa”.

Untuk memulai draf pertama guna menemukan isi tulisan, Ikrom memberikan formula empat tahapan proses yang menyenangkan agar tulisan selesai dan tidak mandek di tengah jalan, dengan estimasi waktu pengerjaan sekitar 3 sampai 4 minggu.

“Ini draf pertama untuk menemukan isi. Jadi, kita tulis dulu, Ibu-ibu. Apapun tulisannya ditulis saja dulu. Jangan berhenti di sana. Kemudian lanjutkan dengan jeda. Jadi tinggalkan tulisan Ibu-ibu sebentar. Kemudian nanti balik lagi. Ketika sudah mulai punya perspektif lain, baca ulang. Kalau ada yang aneh atau kurang tepat, bisa dirapikan lagi begitu. Nanti barangkali mungkin ada waktu 3 sampai 4 minggu dalam membuat tulisan ini, monggo. Itu akan menyenangkan sekali sehingga Ibu punya waktu untuk jeda sebentar, baca ulang, kemudian ulang lagi jedanya, baca ulang lagi, dan rapikan di akhir. Daripada kemudian tulisan tidak pernah selesai,” jelasnya.

Tepat setelah proses jeda dan penulisan draf tersebut selesai,  Ikrom menekankan pentingnya menguji naskah dengan empat pertanyaan sebelum membagikan atau mengirimkannya ke tim editor.

“Empat pertanyaan sebelum membagikan, sebelum menyampaikan ke tim semuanya: Apakah inti kisahnya sudah jelas? Ibu-ibu mau cerita apa? Jangan-jangan kemudian semua pengin diceritain. Bagian mana yang terasa paling hidup? Adakah detail yang perlu dilindungi? Jangan-jangan ada konflik yang harus ada tetapi Ibu-ibu belum membuatnya lebih detail, belum membuatnya lebih bold. Begitu itu harus dikuatkan. Dan yang terakhir adalah apa yang ingin Ibu-ibu tinggalkan kepada pembaca. Nilai apa, value apa, itu juga penting. Walaupun ini dalam sastra mungkin tidak secara lugas memberikan nilai itu, tapi setidaknya Ibu-ibu memberikan perspektif baru setelah membaca ini,” tuturnya gamblang.

Melalui filter evaluasi tersebut, Ikrom memastikan seluruh mozaik tulisan para kader akan menjadi sangat berharga dari perspektif mana pun. Cerita tersebut kemudian dirangkai ke dalam kisah singkat yang terstruktur, meliputi Pembuka (latar tempat, waktu, keadaan), Peristiwa (kejadian utama dan konflik), Titik Balik (turning point pasca klimaks yang mengubah suasana), serta Penutup yang mengakhiri kisah dengan kesan kuat.

Kontributor: Zayyin