Harlah Ke-9, Muslimat NU Jepang Gelar Webinar Ketahanan Keluarga dan Dakwah Lingkungan Bersama UII

Harlah Ke-9, Muslimat NU Jepang Gelar Webinar Ketahanan Keluarga dan Dakwah Lingkungan Bersama UII

Pimpinan Cabang Istimewa (PCI) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Jepang baru saja membuka peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-9. Badan otonom nahdliyin di Negeri Sakura ini menggelar serangkaian kegiatan yang memadukan penguatan syiar Islam, pendidikan keluarga, dan kepedulian terhadap kelestarian alam. Rangkaian acara yang bekerja sama dengan Teknik Lingkungan Universitas Islam Indonesia (TL UII) dan Yayasan Generasi Cerdas Iklim ini dilaksanakan secara virtual dengan platform zoom pada Sabtu, 3 Oktober 2026, yang di dalamnya juga sekaligus peringatan Hari Santri 2026.

Ketua PCI Muslimat NU Jepang, Nur Syamsiyah, S.Sos.I., yang akrab disapa Ade, menyampaikan sambutan hangat terkait tantangan berdakwah di perantauan. Beliau menegaskan bahwa tantangan terbesar keluarga Indonesia di Jepang bukan hanya sekadar urusan cuaca dan bahasa, melainkan bagaimana menjaga anak-anak agar tetap mencintai Allah, Rasul, dan tanah air Indonesia, meskipun mereka tumbuh besar di Jepang. “Al umm madrasatul ula, ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Jika ibunya kuat, insyaallah keluarganya kuat. Jika ibunya berilmu, maka generasi ke depannya akan berilmu. Dan jika ibunya bahagia, maka rumah akan menjadi surga,” jelasnya.

Sambutan dari perwakilan PP Muslimat NU sekaligus membuka Rangkaian Harlah ke -9 PCI Muslimat NU Jepang

Sambutan ketua PCI Muslimat NU Jepang tersebut dilanjutkan oleh perwakilan dari Teknik Lingkungan UII, Adelia Anju Asmara, S.T., M.Eng., Ph.D., dalam sambutannya mengajak jamaah Muslimah untuk mengabadikan riwayat perjuangan hidup mereka lewat karya literasi kolektif. “Beberapa acara seperti penulisan buku bersama ya, yaitu bunga rampai. Jadi nanti bagi ibu-ibu sekalian yang di Jepang bisa kita menulis bersama begitu ya. Dan insyaallah nanti bukunya akan dicetak dan bisa menjadi sebuah kenang-kenangan bagi ibu-ibu sekalian yang ingin bercerita bagaimana caranya, misalkan ingin cerita susahnya mendidik anak di Jepang di negeri minoritas, atau menceritakan bagaimana sih susahnya beradaptasi ketika menuntut ilmu di Jepang. Nanti dari cerita-cerita itu semoga bisa memberikan inspirasi kepada umat dan memberikan manfaat kepada rangkaian acara dakwah lainnya,” paparnya.

Apresiasi juga datang dari tanah air melalui sambutan perwakilan Pengurus Pusat Muslimat NU, Prof. Dr. Zahrotun Nihayah sekaligus membuka Harlah 9 PCI Muslimat NU Jepang. Beliau menyampaikan bahwa ketahanan keluarga Muslim harus diwujudkan melalui kepedulian terhadap lingkungan, baik fisik maupun spiritual. Beliau menjelaskan bahwa budaya memilah sampah di Jepang pada hakikatnya merupakan bagian dari ibadah dan ajaran hifzhul bi’ah (menjaga lingkungan) dalam Islam, yang harus diiringi dengan menjaga lingkungan pergaulan serta digital anak agar tidak terpapar konten negatif tanpa filter. Beliau menegaskan, jika pilar keluarga yang berilmu, mandiri, dan peduli lingkungan ini ditegakkan, keluarga Muslim di Jepang akan menjadi uswah bagi Indonesia bahwa diaspora di sana tetap NU, tetap santri, dan tetap Indonesia. “Akhirnya mari kita jadikan rangkaian harlah muslimat dan hari santri ini bukan sekadar seremonial, tetapi sebagai momentum hijrah keluarga kita menjadi yang lebih baik,” tuturnya.

Kegiatan harlah yang dibuka dengan webinar ini kemudian diisi oleh paparan materi dari Wakil Rektor II Institut Agama Islam (IAI) Al Urwatul Wutsqo Jombang yang juga Tim Ahli Yayasan Generasi Cerdas Iklim, Dr. Hj. Qurrotul Ainiyah, M.HI. Dalam tausiyahnya, Nyai Qurrotul menekankan pentingnya menanamkan dasar agama kepada anak didik seumpama pohon yang kokoh dan kuat, yaitu melalui pembiasaan ibadah yang bagus dan istiqomah serta bermuamalah secara halal. Fondasi ketakwaan inilah yang nantinya akan membuahkan akhlak terpuji; baik kepada diri sendiri, Allah, lingkungan, orang tua, maupun kepada sesama manusia.

Beliau juga menambahkan bahwa para kader Muslimat NU Jepang patut bersyukur dijadikan oleh Allah sebagai sosok perempuan yang memiliki multi-peran luar biasa di dalam rumah tangga—mulai dari fungsi asisten rumah tangga, fungsi ayah, fungsi ibu, hingga kadang menjadi tempat bersandar sebagai seorang teman. “Fungsi apa pun itu kita syukuri karena dengan menjadi ibu yang kuat rohani dan jasmani akan melahirkan keturunan yang soleh-solehah (dzurriyah thayyibah) dan menjadi amal jariyah kita menuju kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat hingga menuju ke surga yang aman, abadi, dan selamanya,” pungkasnya.

Rangkaian Harlah ke-9 dan Hari Santri Nasional 2026 ini terdiri dari beberapa rangkaian kegiatan yang berupa kajian ilmiah, mulai dari pembacaan Istighosah dan doa bersama, pemotongan tumpeng, hingga pelaksanaan Sholat Tasbih berjamaah yang dipusatkan di Masjid NU At Taqwa Koga. Selain agenda luring, harlah ini juga disemarakkan secara daring melalui kelanjutan sesi FGD literasi Muslimat Monogatari serta pendalaman materi melalui Kajian Fiqh Al-Bi’ah sebagai wujud kepedulian nahdliyin terhadap kelestarian bumi.

Kontributor: Zayyin