Rahasia Hidup Tenang ala Islam dan Jepang

Rahasia Hidup Tenang ala Islam dan Jepang

Sepanjang sejarah, kebahagiaan adalah tujuan utama yang selalu dicari oleh manusia. Socrates menyebutnya sebagai kebahagiaan yang bergantung pada sikap dan tindakan yang benar. Saat ini, perbincangan mengenai pencarian makna hidup sering kali dikaitkan dengan konsep ikigai dari budaya Jepang. Namun, bagaimana kita membedah konsep ini melalui kacamata Islam?

Secara bahasa, ikigai berasal dari gabungan kata iki (hidup) dan gai (alasan atau nilai). Mudahnya, ikigai diartikan sebagai alasan untuk hidup atau motivasi yang membuat seseorang semangat bangun di pagi hari. Konsep ini sangat viral di Okinawa, sebuah pulau dengan tingkat harapan hidup tertinggi dunia, di mana penduduknya terus bekerja dan berkontribusi tanpa mengenal istilah pensiun.

Menurut Ken Mogi, ikigai ditopang oleh lima fondasi utama, yaitu: memulai dari hal-hal kecil, membebaskan diri (bertindak tanpa beban layaknya anak kecil), menjaga keharmonisan, menemukan kebahagiaan pada hal-hal sederhana, serta hadir sepenuhnya di masa kini (fokus pada saat ini). Budaya ini sejatinya lahir dari perpaduan panjang berbagai tradisi di Jepang yang mengajarkan penerimaan pada ketidakabadian hidup, keharmonisan alam, serta etika tanggung jawab sosial di masyarakat.

Uniknya, ikigai ini ternyata memiliki kemiripan yang erat dengan nilai-nilai sosial dalam ajaran Islam. Misalnya dalam budaya Jepang, mereka memiliki prinsip makan secukupnya dan tidak berlebihan, yang sejalan dengan konsep kesederhanaan dalam Islam. Begitu pula dengan sikap memperlakukan setiap manusia secara setara untuk menciptakan rasa aman dan damai di tengah masyarakat. Keduanya, baik ikigai maupun Islam, sama-sama menekankan pentingnya kehidupan yang memiliki tujuan, pengenalan diri, keseimbangan fisik dan mental, serta keharmonisan sosial yang terus terjaga.

Meski demikian, terdapat perbedaan mendasar pada keyakinan dan tujuan akhir dari konsep tersebut. Dalam Islam, kebahagiaan dikenal dengan istilah sa’adah. Kebahagiaan sejati (sa’adah) tidak sekadar sebatas kepuasan materi, ketenangan emosi sesaat, atau kesuksesan di dunia semata. Sa’adah berakar pada tuntunan al-Qur’an dan as-Sunnah, berpusat pada keyakinan untuk mengesakan Allah, dan berorientasi pada kehidupan abadi di akhirat.

Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa hakikat manusia terdiri dari raga yang akan hancur dan jiwa yang mulia. Jika tubuh fisik butuh makanan bergizi, maka jiwa membutuhkan nutrisi spiritual. Al-Ghazali mengibaratkan proses perubahan spiritual ini layaknya mengubah logam biasa menjadi emas yang berharga. Proses ini mewajibkan kita untuk menyucikan jiwa dan membersihkan hati dari sifat-sifat buruk agar mampu menerima cahaya petunjuk dari Allah.

Al-Ghazali memberikan syarat mutlak agar manusia dapat menuju kebahagiaan yaitu pengenalan diri. Sebagaimana yang tertuang dalam sebuah perkataan yang berbunyi, 

مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ

Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.”

Hal tersebut dipertegas oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat Fussilat ayat 53:

سَنُرِيهِمۡ ءَايَـٰتِنَا فِی ٱلۡـَٔافَاقِ وَفِیۤ أَنفُسِهِمۡ حَتَّىٰ يَتَبَیَّنَ لَهُمۡ أَنَّهُ ٱلۡحَقُّ

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al-Qur’an itu adalah benar.”

Untuk memandu manusia mencapai puncak kebagiaan, al-Ghazali merumuskan empat bentuk pengetahuan yang sangat penting, yaitu: mengenal diri sendiri, mengenal Allah, mengenal hakikat dunia, dan mengenal kehidupan akhirat. Menurutnya, setiap manusia selalu mengalami perang batin antara empat sifat dasar yang ada di dalam dirinya. Keempat sifat itu adalah sifat kebinatangan yang terus mengejar kepuasan fisik, sifat buas yang memicu amarah dan kekerasan, sifat setan yang suka menipu, serta sifat malaikat yang selalu condong pada ilmu dan kebaikan.

Kebahagiaan akan tercapai ketika seseorang mau berjuang keras menaklukan hawa nafsunya. Ia harus menjadikan akal sehat sebagai penasihat, mengendalikan keinginan buruk, dan menjadikan hati yang bersih sebagai pemimpin bagi dirinya. Puncaknya adalah ketika hati tersebut sepenuhnya diarahkan pada rasa cinta kepada Allah dan merasakan kenikmatan mengingat Allah, karena hati kita memang diciptakan untuk tujuan itu.

Jika kita bandingkan antara keduanya, kita akan menemukan bahwa ikigai memiliki keterbatasan dari sudut pandang Islam. Konsep ikigai cenderung berfokus pada kehidupan duniawi saat ini. Tujuannya adalah mencari titik temu antara hal yang kita cintai, keahlian yang kita miliki, hal yang dibutuhkan dunia, dan pekerjaan yang bisa menghasilkan uang. Ikigai memberikan panduan kehidupan dunia yang sangat baik, namun sama sekali tidak membahas hubungan manusia dengan Sang Pencipta, pertanggungjawaban di hadapan Tuhan, serta kehidupan setelah kematian. Ia hanya berfokus pada terapi untuk mencari ketenangan pikiran sesaat, bukan sebagai perjalanan jiwa menuju Tuhan.

Sebaliknya, sa’adah menyatukan kesuksesan dunia dengan kebahagiaan spiritual yang abadi. Ketenangan jiwa yang sejati di dalam Islam hanya bisa diraih melalui kedekatan dengan Sang Pencipta. Walhasil, ikigai sangat berguna sebagai alat bantu untuk menciptakan keteraturan dan kebiasaan produktif di dunia. Namun, agar nilai-nilai kebaikan itu tidak terputus dan hilang setelah kita meninggal, aktivitas tersebut harus dijiwai oleh semangat sa’adah. Dengan meniatkan hobi, pekerjaan, dan bantuan kita kepada sesama semata-mata untuk mencari rida Allah, kita tidak hanya menemukan alasan untuk semangat bangun pagi, tetapi juga merintis jalan menuju kebahagiaan tanpa batas di surga kelak. Wallahu a’lam.

Oleh: Muhammad Dini Syauqi Al Madani, mahasiswa Pascasarjana Program Studi Dakwah dan Peradaban di Kulliyah Dakwah Islamiyah ‘Alamiyah, Libya