Pondasi Ilmu dan Ibadah adalah Akhlak, Titik!
Sejatinya tak ada kata terlambat dalam belajar. Pintu ilmu akan selalu terbuka sepanjang kita masih hidup. Manisnya ilmu masih dapat kita rasakan dengan masuk ke tiap-tiap pintu itu. Euforia nikmat Allah masih ada di sana. Hanya saja, makna sejati ilmu mengalami reduksi sempit yang menjebak agama hanya sebatas hukum, halal-haram, untung-rugi, dosa-pahala. Agama dianggap hanya menyajikan sajian hitam-putih dalam balutan teori dan ritual belaka.
Sejatinya bicara ilmu agama tidaklah demikian. Untuk me-recovery pemahaman ini, kita bisa merujuk pada perkataan Imam Syafi’i, “Ilmu adalah apa yang bisa mendatangkan kemanfaatan baik untuk diri sendiri maupun orang lain, bukan apa yang kamu hafal.” (Manaqib Aimmah Arba’ah, 59)
Imam Syafi’i ingin mengeluarkan bias yang tampak keliru tentang ilmu agama. Orang alim bukan hanya dinilai rapih dalam menyusun kata dan retorika, tapi dituntut untuk tidak rapuh dalam mengamalkan ilmu dalam kehidupan nyata.
Bicara ilmu bukan soal banyaknya ayat Al-Quran dan hadis yang kita hafal, paham teori ushul fikih (yurisprudensi Islam), mampu menampilkan banyak furu’ masalah fikih, paham kaidah nahwu sharaf serta balaghah, tapi juga manfaat dari ilmu-ilmu itu. Manfaat yang dimaksud adalah pengamalan kita terhadap ilmu dan mampu menyebarluaskannya sebagaimana keterangan dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim.
Konon Imam Syafi’i memiliki kecerdasan yang setara dengan setengah penduduk bumi. Beliau bisa mendapat kemuliaan sebegitu hebatnya karena ilmu itu beliau amalkan dan terbukti manfaatnya bisa kita rasakan sampai sekarang (Manaqib Aimmah Arba’ah, 57). Imam Syafi’i pernah berkata, “Menuntut ilmu itu lebih utama daripada sholat sunnah.” (Manaqib Aimmah Arba’ah, 59). Perkataan ini mengingatkan dengan kaidah fikih:
الْمُتَعَدِّيْ عِنْدَهُمْ أَفْضَلُ مِنَ الْقَاصِرِ
“Ibadah yang manfaatnya bisa dirasakan orang banyak lebih utama daripada ibadah yang manfaatnya terbatas.”
Syekh Ibrahim al-Baijuri ketika menjelaskan ilmu yang bermanfaat menerangkan bahwa manfaat itu adalah:
إِيْصَالُ الْخَيْرِ لِلْغَيْرِ وَهُوَ أَعَمُّ مِنْ أَنْ يَكُوْنَ بِالتَّعْلِيْمِ أَوْ بِالتَّعَلُّمِ أَوْ بِالْهِبَةِ أَوْ بِالْوَقْفِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنْ كُلِّ مَا فِيْهِ ثَوَابٌ أُخْرَوِيٌّ
“Manfaat adalah mendatangkan kebaikan pada orang lain melalui belajar, mengajar, menghibahkan sesuatu, wakaf, dan lain-lain.” (Hasyiyah al-Baijuri ‘ala Fathil Qorib, 18)
Maka kita tidak perlu heran bahwasannya ibadah yang paling utama adalah memasukkan rasa bahagia ke hati orang lain. Imam Ghazali menuliskan kisah dialog Nabi Musa dengan Allah dalam kitab Mukasyafatul Qulub:
“Ya Allah, aku telah melaksanakan ibadah yang Engkau perintahkan padaku. Ibadah mana yang paling Engkau senangi? Apakah shalatku?”
Allah menjawab, “Sholatmu hanya untuk dirimu sendiri karena shalat bisa menjaga dirimu dari perbuatan keji dan mungkar.”
“Apakah zikirku?” Nabi Musa kembali bertanya.
“Zikirmu hanya untuk dirimu sendiri, karena dengan berzikir kepada-Ku hatimu menjadi tenang.”
Nabi Musa terus bertanya, “Apakah puasaku?”
“Puasamu juga hanya untuk dirimu sendiri, dengan kamu berpuasa hawa nafsumu dapat kau kendalikan.”
“Lantas ibadah apa yang paling membuat-Mu senang?”
Allah akhirnya menjawab “Memasukkan rasa senang ke dalam diri seseorang yang hancur hatinya” (Buku Tuhan Ada Di Hatimu, Husein Ja’far al-Hadar)
Dari semua penjelasan di atas dapat kita ambil natijah bahwa kunci membawa kemanfaatan ilmu adalah dengan akhlak yang baik yang didasari oleh hati yang baik pula. Dengan akhlak yang tulus, kita bisa membagikan cinta yang bersemayam di hati kita kepada hati yang lain. Bersikap sopan santun saja sudah enak dipandang. Namun bila itu tak bersumber dari hati, maka itu namanya bukan akhlak tapi pencitraan. Karena itu, orang yang berakhlak saat lewat di depan orang yang lebih tua bukan hanya badannya yang menunduk, tapi juga hatinya.
Nabi Muhammad terkenal dengan pribadi yang memiliki budi pekerti luhur dan low profile. Hal ini terbukti bahwa beliau mendapat julukan al-Amin dari kaum Quraisy jauh sebelum beliau menjadi rasul. Karena setiap tindakan dan ucapan beliau selalu tegak lurus dengan kebenaran. Kemudian setelah beliau wafat, kenangan akhlak terpuji beliau kepada para sahabatnya membuat mereka menangis tatkala teringat junjungan mereka al-Musthofa. Paling-paling para sahabat hanya bisa menceritakan satu-dua momen bersama Rasulullah yang menurut mereka paling indah. (Buku Saring Sebelum Sharing, Nadirsyah Hosen)
Sungguh sangat tidak pantas seorang muslim yang bertambah rajin ibadahnya namun malah menjadi pribadi yang sering marah-marah, tidak peduli pada tetangga, dan selalu menampakkan wajah murung ketika bertemu. Inilah tantangan muslim saat ini. Tingginya semangat beribadah dan menuntut ilmu harus diimbangi dengan semangat berakhlak. Masjid semakin banyak, santri yang mondok semakin menyemut, maka kerendahan hati harus semakin bersemai. [ ]
Oleh: M. Zakki Farhan Baiquni
